Cover image product

Buruh Panggul Garam Miliki Anak Sarjana

Cerita inspiratif Kurdi
diceritakan kembali oleh Mafruzah | 08 Jul 2018
|

Hidupnya tidak mudah, tapi mampu dilewati dengan luar biasa. Tinggal di desa tak membuat pikirannya terpaku dan ketinggalan. Meski orang desa dan tidak berpendidikan, Bapak punya pemikiran besar bahwa "hidup harus maju, hidup harus ada perubahan menjadi lebih baik". Yang paling hebat adalah pemikiran beliau tentang "pengentasan kemiskinan". Menurut beliau, tidak akan ada orang miskin jika keluarga dan sekitar tempat tinggalnya punya kepedulian. Woooow saya kagum dengan pemikiran beliau. Banyak hal yang menjadi pelajaran hidup setiap ngobrol dengan beliau. Kunci keberhasilannya adalah HIDUP HEMAT. Sejak usia belia, Bapak telah bekerja keras. Mulai menjadi buruh panggul garam, buruh tani sampai menjadi tukang ngarit. Jaman dulu upah sebagai buruh panggul garam Rp. 1.300 per hari. Beliau gigih menabungnya Rp. 700. Katanya untuk berjaga-jaga, takut ga dapat pekerjaan besok nya. Maklum di desa, hampir semua orang menggarap sendiri ladang dan tambaknya. Sehingga hanya sedikit yang membutuhkan buruh. Sang istri pun turut serta membantunya bekerja menjadi buruh panen tetangga. Hidup hemat ala beliau ini ternyata tokcerrr. Perlahan beliau bisa punya tabungan, sapi, beli tanah dan membangun rumah. Sampai akhirnya bisa menyekolahkan 2 anaknya menjadi sarjana. Bapak ini keren luarrr biasa. SALUT!

Biodata

Nama Pencerita : Mafruzah

Nama Tokoh Inspiratif : Kurdi

Umur Tokoh Inspiratif : 69 tahun

Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis dihalaman ini adalah milik pencerita dan tidak mewakili Allianz Indonesia