Cover image product

Kado Umroh untuk Kakek yang Sekuat Baja

Cerita inspiratif Bakari
diceritakan kembali oleh Elza Sofi Mulyanti | 08 Jul 2018
|

Kini dia hanyalah sesosok pria yang usianya sudah senja. Tubuhnya yang tak semuda dulu ternyata masih sanggup melakukan pekerjaan berat layaknya petani yang berusia 30 tahunan. Ya, beliau sudah merintis nasibnya sebagai petani yang menggarap ladang orang lain sejak tahun 60-an ketika ia masih tinggal di istana (baginya) yang terbuat dari anyaman bambu dan hampir ruyuk (miring seakan ambruk). Veteran yang kukenal ini tidaklah bukan seorang yang sangat berjiwa besar dan pantang menyerah. Tak hanya itu kakinya yang besar juga menandakan kegigihannya selama ini demi menghidupi keluarganya. Memiliki 9 anak yang ketika itu mulai remaja menambah kebutuhan di keluarganya. Bahkan beberapa dari anaknya yang sudah berkeluarga, di antaranya justru malah menambah beban dengan menitipkan kedua anaknya kepada sang Kakek, mekipun begitu kakek menganggap ini sebagai kemuliaan yang harus ia jaga, terlebih 1 di antara mereka berkebutuhan khusus. Kesulitan ekonominya tak hanya berhenti di sini, sang istri pun memiliki riwayat penyakit "epistaksis" atau yang lebih dikenal mimisan, keluar-masuk rumah sakitlah nasibnya. Banyak biaya yang dibutuhkan karena tak memiliki jaminan kesehatan atau asuransi sejenis, bukan tak mau. tapi tak mampu karena kemiskinan yang dideritanya. Hingga akhirnya sang istri meninggalkannya tahun 2016 lalu. Hidup sendiri bukanlah suatu hal yang mudah dijalaninya, karena kini anak-anaknya memiliki keluarga masing-masing, alih-alih membantu perekonomiannya tetapi tetap saja kakek tak mau merepotkan anak-anaknya. 2016 pertengahan cidera yang dialaminya pada lengan (otot & tulangnya) sampai-sampai tak bisa bergerak dan mengangkat apa pun, membuatnya semakin terbatas untuk bekerja hingga harus berobat di berbagai alternatif. tapi syukurlah saat ini kondisinya semakin membaik dan masih sanggup bekerja di kebun. Tak hanya itu justru banyak dari mereka yang masih muda ataupun sebaya dengannya merasa iri dan salut kepadanya. Alasan mereka pun beragam, "Usiamu masih 60 tahunan, ya?" "Usiamu boleh senja, tapi ragamu nampak remaja," dikutip dari masyarakat sekitarnya. Bagi lingkungannya dia hanyalah seorang tetua yang menginspirasi mereka akan memaknai kehidupan yang tak semulus jalan tol, katanya. Tolak ukur mereka dalam bekerja sungguh malu bila disandingkan dengannya, karena tak banyak dari mereka yang tak sesemangat dirinya. Tak banyak keinginannya saat ini, "Aku ingin mengunjungi rumah ALLAH SWT, aku ingin menyempurnakan rukun Islam-ku, untuk itulah aku bekerja dari fajar mulai menyingsing sampai fajar hampir terbenam" ujarnya. "Nikmatilah dan syukurilah pemberinnya..." beri nasehatnya padaku. Bagiku beliau memiliki kekuatan bagai baja, kemuliaan bak emas berlian yang tak ternilai harganya. Inilah alasanku untuk memberinya kesempatan untuk mewujudkan mimpinya selama ini melalui Kado Umroh Allianz. Kata Pepatah "Genggam bara api, biar menjadi arang".

Biodata

Nama Pencerita : Elza Sofi Mulyanti

Nama Tokoh Inspiratif : Bakari

Umur Tokoh Inspiratif : 74 tahun

Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis dihalaman ini adalah milik pencerita dan tidak mewakili Allianz Indonesia